RADARINDO.co.id – Medan : Pembangunan jalan tol yang dilakukan pemerintah, khususnya di Provinsi Sumatera Utara (Sumut), diantaranya adalah untuk mempercepat para pengguna jalan mencapai tujuan serta menghindari kemacetan.
Seperti jalan tol Medan-Binjai melalui gerbang Helvetia dan Sei Semayang. Jalan tersebut, salah satunya guna menghindari kemacetan yang kerap terjadi di kawasan Kampung Lalang Medan.
Baca juga : Mantan Plt Ketua Dewan Pers Dipolisikan
Ironisnya, akses masuk pintol Tol Sei Semayang malah berubah fungsi jadi pasar tradisional atau pasar kaget. Para pedagang berjualan di sepanjang ruas jalan. Akibatnya, hal tersebut menjadi salah satu pemicu lambatnya pengguna jalan untuk masuk ke gerbang tol.
Hal tersebut diungkapkan Dosen S3 dan S2 Univ Prima Indonesia, Robert Tua Siregar Ph.D kepada RADARINDO.co.id Group KORAN RADAR, Rabu (08/2/2023).
Menurutnya, pasar yang buka setiap sore ini, sangat mendominasi penyebab kemacetan di perempatan memasuki gerbang tol. “Hampir setiap hari macet, ditambah lagi ada pasar kaget setiap hari minggu gini, jadi makin parah deh macetnya,” ujar Dosen S2 Kebijakan Publik Univ Sumatera Utara itu.
Robert berharap agar pemerintah khususnya Pemerintah Kota (Pemko) Medan maupun Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Deliserdang selaku pemegang otonom di wilayah tersebut, tidak melakukan pembiaran dan segera mengatasi kemacetan yang sering terjadi di perempatan tersebut.
Pasalnya, selain menyebabkan kemacetan dan merusak pemandangan, aktivitas warga juga menjadi terganggu dengan adanya pasar itu. “Harapannya, pemerintah dapat mengatasi, mungkin dengan memasang lampu jalan sehingga dapat meminimalisir kemacetan. Karena jika macet begini kan jadi susah aktivitas,” ujar Robert Tua Siregar Ph.D yang juga Dosen S2 di Univ HKBP Nomensen ini.
Baca juga : Bupati Samosir Hadiri Silaturahmi Nasional SMSI
Dikatakan Specialist Depelovment Planning Area itu lebihlanjut, dari refrensi yang ada pada Peraturan Pemerintah Republik Indonesia nomor 15 tahun 2005 tentang jalan tol bagian keempat Pasal 6, jumlah jalan masuk dan jalan keluar ke dan dari jalan tol, dibatasi secara efisien serta semua jalan masuk dan jalan keluar harus terkendali secara penuh.
“Jalan tersebut dipenuhi pedagang yang berada tepat di tengah pembatas jalan akses menuju jalan tol tersebut. Terlihat padagang seakan tidak menghiraukan banyaknya kendaraan keluar masuk yang sewaktu-waktu dapat membahayakan diri mereka. Hal ini perlu perhatian serius dari pihak pemerintah dan diharapkan jangan ada pembiaran,” cetusnya. (KRO/RD)







