Truck Muat BBM Diduga “Kencing” di Gudang Siong Seruwey

46

RADARINDO.co.id – Pekan Labuhan : Truck tangki pengangkut Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis solar muatan kapasitas 5.000 liter, masuk ke sebuah gudang Seruwai diduga tempat penampungan pengolahan BBM (Siong) di Seruwai Lingkungan 4, Kelurahan Pekan Labuhan, Kecamatan Medan Labuhan, Sabtu (20/04/2024) sekitar pukul 11.00 WIB.

Baca juga : Bupati Sidoarjo Mangkir Dipanggil KPK

Truck warna biru putih dengan nopol BK 803x Ex itu diduga “kencing” atau bongkar muatan BBM secara ilegal didalam gudang tersebut.

Menurut keterangan sumber yang tidak ingin disebutkan namanya, setiap hari ada saja truck tangki muatan BBM masuk kedalam gudang diduga ilegal tersebut.

“Setiap hari ada saja truck tangki BBM bersubsidi dan non subsidi jenis solar dan Pertalane datang berganti-ganti masuk ke gudang tanpa plank nama tersebut. Kami menduga gudang itu dijadikan sebagai tempat penampung pengolahan BBM ilegal,” ujarnya kepada wartawan.

Menurutnya, gudang tersebut sudah lama beroperasi. Bahkan sambungnya, mereka secara terang-terangan menampung BBM secara ilegal tanpa ada rasa takut akan tindakan tegas dari pihak Aparat Penegak Hukum (APH)

“Sudah cukup lama beroperasi diduga gudang ilegal penampung pengolahan BBM tersebut. Namun herannya mereka tidak ada rasa takut dengan tindakan tegas dari APH, ditambah lagi bermainnya secara terang-terangan,” ucapnya heran.

Baca juga : Personil Jibom dan KBR Detasemen Gegana Brimob Poldasu Sterilisasi Gereja

Diungkapkannya juga bahwa demi mendapatkan keuntungan yang lebih besar, para mafia minyak mencampurkan BBM bersubsidi jenis solar dengan solar Tanjung Pura atau BBM dari Aceh, dan BBM jenis Pertaline di campur dengan Minyak konden dari Tanjung Pura dan Aceh, kemudian dipasarkan dengan harga industri kepada konsumen sesuai dengan order.

Selain itu, aktivitas diduga gudang ilegal tempat penampung pengolahan BBM tersebut juga sangat berdampak akan lingkungan masyarakat sekitar serta dikawatirkan rawan akan kebakaran.

Terpisah, Ketua KJMB, Ivan didampingi Sekretaris Umar Spd dan Bendahara Jumadi, menegaskan bahwa tindakan oknum ‘mafia’ minyak tersebut bertentangan dengan Nomor 22 Tahun 2001 tentang Migas pasal 55 yang menyatakan setiap orang yang menyalahgunakan pengangkutan dan/atau niaga BBM yang disubsidi pemerintah dipidana dengan pidana penjara paling lama enam tahun dan denda paling tinggi Rp60 miliar.

“Maka dari itu, hal ini butuh perhatian serius dari pihak APH, kalau tidak, bisa menjamur nantinya, apalagi dapat menyebabkan kerugian negara. Selain berdampak akan pencemaran lingkungan, dikhawatirkan bisa menimbulkan kebakaran. Apalagi suhu saat ini khususnya di Kota Medan cukup panas,” ungkapnya. (KRO/RD/Jumadi/Ganden)