Medan  

Mengapa Petani Jadi Profesi Bergengsi di Negara Lain

RADARINDO.co.id-Medan: Tidak keliru lagi jika istilah orang -orang dulu mengatakan, pedagang banyak akal, dan petani sempurna akal. Tidak tahu siapa memulai pepatah kata ini.

Sungguh tidak bisa dibayangkan jika tidak ada petani di dunia ini. Merekalah yang berjasa menanam, mengurus hingga memanen hasil perkebunan atau pesawahan.

Baca juga : Warga Medan Mengeluh Saldo PKH & KIP Kosong

Kemudian hasilnya dijual ke pasaran dan dikonsumsi oleh masyarakat seperti sayuran, buah-buahan dan lainnya, tanpa kecuali beras.

Akan tetapi di Indonesia sendiri, profesi sebagai petani sebagian masih dipandang sebelah mata. Bahkan hasil penjualan kebun yang didapat dihargai tak terlalu tinggi.

Sehingga nasib kehidupan petani jauh dari sejahtera. Salah satu penyebabnya karena nilai jual hasil pertanian, khususnya padi tidak bisa menutupi biaya operasional.

Artinya, padi atau gabah yang dijual ternyata tidak bisa membayar biaya pengolahan seperti pupuk, racun dan upah kerja.

Setelah hampir menunggu waktu 3 bulan maka pendapatan seringkali draw alias pas- pasan. Namun demikian, mereka para petani desa tidak melakukan protes.

Ironisnya, nasib anak petani desa sangat sulit untuk membiayai sekolah anak -anaknya ke perguruan tinggi.

Tidak dapat dibayangkan jika terjadi kelangkaan beras ditengah masyarakat. Berbeda dengan petani sawit, ketika minyak goreng sulit ditemukan dipasaran. Maka kegegeran hingga viral mendunia.

Namun tahukah anda, beberapa negara malah menjadikan petani sebagai profesi yang membanggakan.

Bahkan penghasilannya bisa berkali-kali lipat, maka tak heran anak-anak muda di negara-negara ini banyak yang berminat menjadi petani.

Dihimpun dari berbagai sumber, berikut ini lima negara yang menjadikan petani sebagai profesi menarik untuk anak muda.

Para petani di Belanda terbilang sangat kaya raya, perbulannya sedikitnya bisa mencapai Rp14 juta. Bahkan negeri Kincir Angin ini menjadi negara kedua terbesar dengan tingkat ekspor hasil pertaniannya.

Majunya pertanian di Belanda dipengaruhi dengan beberapa faktor, salah satunya adalah mereka menggunakan sistem modern. Sehingga memudahkan para petani dan bercocok tanam.

Di Amerika Serikat yang mana para petani makmur, serta sejahtera. Tak hanya itu saja, anak-anak muda di negeri Paman Sam tersebut juga banyak yang berminat menjadi petani.

Bagaimana tidak, menjadi petani di Amerika Serikat cukup menjanjikan. Terlebih teknologi di sana juga sangat maju, sehingga membantu dan memakmurkan para petani agar semakin semangat dalam bercocok tanam. Serta menghasilkan hasil ladang yang terbaik.

Negeri tirai bambu, di China yang masuk dalam negara makmur dalam sektor pertanian. Termasuk anak-anak mudanya yang tak sedikit berminat terjun ke dunia tersebut.

Bahkan lulusan non petani pun banyak yang berbondong-bondong, menggeluti profesi ini. Pada 2009 lalu, China masuk ke dalam daftar yang paling tinggi pada bidang pertanian.

Penghasilan yang didapat para petani di China sedikitnya bisa mencapai Rp9 juta perbulannya. Maka tak heran mereka begitu makmur, ditambah lagi pemerintah setempat sangat mendukung kesejahteraan para petani ini.

Jepang juga termasuk negara yang sangat menghargai dan menjunjung tinggi para petani. Salah satu desa yang sebagai penghasil petani terbesar di negara ini, yaitu Desa Kawakami.

Penghasilan para petani di Jepang disebut-sebut bisa mengalahkan gaji karyawan kantoran. Di mana penghasilannya bisa mencapai 25 juta Yen atau setara dengan Rp2 miliar.

Baca juga : Komisi III DPRD Medan Pertanyakan Realisasi Pembinaan UMKM

Petani di Australia menjadi profesi yang sangat terpandang. Maka tak heran, jika kita menjumpai anak-anak muda yang memilih jadi petani di negeri Kangguru ini.

Selain didukung teknologi yang sangat tinggi, ekspor petani di Australia juga sangat mumpuni. Serta dua pertiga atau sekitar 485 juta hektar tanah Australia, sengaja dibuka untuk sektor pertanian.

Mengapa petani di negeri kita tidak menjadi profesi bergengsi seperti diluar negeri. Padahal hasil panen mereka yang dinikmati masyarakat sebagai kebutuhan pokok. Bagaimana dengan minyak goreng?. (KRO/RD/TIM)