Medan  

Proyek Pengendalian Banjir Sungai Deli Diduga Gunakan Alat Berat “Abal-abal”

RADARINDO.co.id – Medan Labuhan : Guna mendapatkan keuntungan lebih besar dalam sebuah pekerjaan, seseorang terkadang cenderung menggunakan segala cara untuk bisa mendapatkannya.  Sehingga tak jarang hanya lebih mengedepankan kuantitas akan tetapi mengenyampingkan kualitas.

Mungkin hal itu yang terjadi pada pelaksanaan proyek pengendalian banjir Sungai Deli yang saat ini sedang berlangsung pengerjaannya di Aloha, Lingkungan II Kelurahan Martubung Kecamatan Medan Labuhan Kota Medan.

Bac ajuga : Jalan Lintas Simpang Katarina-Mandoge Rusak Parah

Dimana, proyek yang bertujuan untuk memperkuat tanggul Sungai Deli agar tidak jebol itu, menggunakan alat berat jenis Crawler Crane (crane pancang) yang diduga sudah tua alias “abal-abal”, sehingga diduga sering rusak.

Warga sekitar pernah protes atas lambatnya pengerjaan proyek sehingga rumah-rumah warga yang ada di sekitar proyek mengalami kebanjiran pada Senin 21 November 2022 lalu. Saat itu, pihak pekerja proyek mengakui bahwa crane pancangnya rusak.

“Waktu kami demo di proyek itu kemarin, yang kerja di proyek itu bilang alat beratnya bolak‐balik rusak, sehingga pengerjaannya jadi lambat,” ujar warga Lingkungan II yang tak mau disebutkan namanya kepada RADARINDO.co.id Koran Radar Group, Selasa (06/12/2022).

Warga mengatakan bahwa mereka sudah 3 kali menggelar aksi demo terkait hal tersebut. “Dalam satu hari, kami sampai tiga kali demo di proyek itu, lalu malam harinya datang pak Bobby (Walikota Medan-red) marah sama orang proyek itu,” tutur warga.

Ditempat terpisah, salah seorang pekerja proyek pengendalian banjir yang enggan menyebut namanya saat dikonfirmasi, menyatakan bahwa harga sewa crane yang baru jauh lebih mahal, sehingga pimpinan proyek menyewa yang lebih murah. “Kalau keluaran baru harga sewanya ya lebih mahal dari yang lama (yang sudah tua),” ujarnya.

Terkait dengan dugaan seringnya crane pancang rusak, pihak pelaksana proyek dari PT. Sarjis Agung Indrajaya belum berhasil dikonfirmasi. Project Manager PT. Sarjis, Ir. Donald Sigalingging ketika hendak dihampiri untuk dikonfirmasi di lokasi proyek, terkesan menghindar.

Diketahui, anggaran dana yang dialokasikan untuk proyek pembangunan prasarana pengedalian banjir Sungai Deli senilai Rp 18 miliar lebih yang bersumber dari dana APBN tahun 2022 milik Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera II Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

Proyek tersebut diduga sarat dan mengalami berbagai permasalahan, diantaranya pemancangan tiang pancang sheet file yang renggang, kurang memadainya perlengkapan alat K3 (Kesehatan dan Keselamatan Kerja) hingga tidak adanya pagar seng keliling proyek sebagai pembatas pengamanan.

Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) BWS Sumatera II, Yudha, saat dikonfirmasi via selulernya, membantah bahwa renggangnya pemasangan sheet file adalah sebuah permasalahan. Menurutnya, renggangnya sheet file tidak masalah karena bukan bagian utama dalam proyek.

Baca juga : Kapolres Tapsel Lakukan Pemeriksaan Internal Terkait Tewasnya Tersangka Curas

“Bukan masalah renggan-renggang itu bang. Sheet file itu hanya untuk sebagai pondasi. Yang menjadi utama itu adalah lening betonnya. Sheet file itu hanya pondasi,” ujar Yudha.

Menanggapi digunakannya crawler crane yang diduga sudah tua dalam proyek pengendalian banjir Sungai Deli sehingga kinerjanya kurang maksimal, salah seorang aktivis NGO Kota Medan sangat menyesalkan hal itu.

“Proyek pengendalian banjir itu bersifat emergency, darurat. Apalagi sekarang ini sedang musim hujan, diharapkan pemborong tidak main-main mengerjakannya,” ujar Limbong.

Limbong mengatakan bahwa lembaga yang dipimpinnya akan memantau proyek tersebut hingga akhir. “Kami akan mengikuti perjalanan proyek itu. Jika nanti ada temuan maka akan kami laporkan kepada aparat penegak hukum,” tegasnya. (KRO/RD/Ganden)