RADARINDO.co.id : PARA orangtua, khususnya kaum ibu, harus bijak dalam memenuhi kebutuhan gizi anak selama masa pertumbuhan. Pemberian susu kental manis sebaiknya tidak dijadikan pilihan utama, terutama bagi anak berusia di bawah lima tahun.
Ahli gizi Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Dr. Toto Sudargo, SKM, M.Kes, tidak merekomendasikan balita mengkonsumsi susu kental manis, karena terdapat tambahan gula dalam proses pengawetannya.
Baca juga: Kunyit Berkhasiat untuk Kesehatan, Termasuk Masalah Kewanitaan
“Enam bulan full ASI lalu setelah itu diteruskan sampai (usia) dua tahun. Tapi, ada pendamping ASI bentuknya makanan bisa susu dan sebagainya, tapi susu bubuk tidak wajib diberikan, tetapi makanan pendamping yang diberikan,” terangnya, melansir kompas, Rabu (20/8/2025).
Sementara, Dokter spesialis anak Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, dr. Aisya Fikritama, Sp.A menjelaskan, susu kental manis sebenarnya mengandung 55-60 persen gula (sukrosa atau laktosa). Susu kental manis juga mengandung sedikit protein, lemak, dan mikronutrien.
“BPOM RI (2018) menyatakan bahwa SKM tidak boleh dikategorikan sebagai susu untuk anak, melainkan produk gula dengan tambahan susu. Jadi, SKM tidak bisa disamakan dengan susu pertumbuhan atau susu formula bayi,” ujarnya.
Menurutnya, susu kental manis bisa mendatangkan efek jangka pendek dan panjang bagi anak. Efek jangka pendek mengkonsumsi susu kental manis pada anak bisa membuat mereka merasa kenyang.
Padahal lanjutnya, tubuh sebenarnya kekurangan protein dan zat gizi penting. Asupan gula yang tinggi juga berkaitan dengan munculnya karies gigi pada anak. “Anak jadi sulit menerima makanan bergizi lain, karena terbiasa rasa manis,” kata Aisya.
Susu kental manis bisa memberikan efek jangka panjang berupa peningkatan risiko obesitas, resistensi insulin, dan diabetes tipe 2 di usia remaja atau dewasa.
Baca juga: Harus Tahu, Kebiasaan Pagi Ini Bisa Bikin Merusak Jantung
Dampak lainnya adalah penyakit metabolik, seperti asupan gula tinggi yang dikaitkan dengan hipertensi, fatty liver, dan penyakit jantung di masa depan. Susu kental manis juga bisa berdampak bagi kecerdasan dan tumbuh kembang anak.
Otak anak sebenarnya butuh protein, seperti DHA/AA, zat besi, zinc, yodium, dan vitamin B kompleks. Namun, susu kental manis tidak memiliki banyak kandungan gizi sehingga anak berisiko mengalami stunting atau anemia defisiensi besi jika produk ini menjadi sumber asupan utama. (KRO/RD/KP)






