RADARINDO.co.id : Sunan Kalijaga adalah sosok wali yang cerdas dalam mengemas dan memodifikasi dakwah Islam yang diajarkannya. Sunan Kalijaga mampu membaca kecenderungan masyarakat Jawa yang sangat lekat dengan budaya dan tradisi.
Sunan Kalijaga juga sangat jeli menempatkan ajaran Islam di sudut ruang yang tepat. Ia mampu menempatkan ajaran Islam tersebut dalam keseharian hidup masyarakat.
Baca juga : Perlu Diperhatikan, Ini Beberapa Ciri Sakit Ginjal Stadium Awal
Bukan hanya waluku atau alat cangkul, beliau juga mengemas ajaran Islam tersebut pada kegiatan umum dalam masyarakat seperti memanjat pohon kelapa.
Dilansir dari portalmajalengka, Sunan Kalijaga dalam menggambarkan inti hakikat kehidupan dengan membuat perbandingan perumpamaan panjat pohon kelapa dan panjat tangga.
Manusia dalam melakoni hidup dalam pencapaian keridhoan Tuhan dihadapkan dengan berbagai ujian. Sebagaimana kita dihadapkan dengan sebatang pohon kelapa. Untuk mencapai puncaknya kita harus banyak berlatih dan belajar untuk memanjatnya, sehingga kita mampu merangkul batang pohon kelapa tersebut dan naik hingga kebagian atas.
Ketika seseorang sampai diatas, maka ia akan menemui buah kelapa. Buah kelapa tersebut memiliki tatanan buah yang terdiri banyak bentuk. Dari buah itu, seseorang akan dapat mengambil banyak makna dari asal buah, yakni manggar, bluluk, besar sedikit cengir, terus degan, kemudian buah kelapa.
Tatanan buah kelapa dapat digambarkan sebagai perumpamaan proses kematangan seseorang baik hidup, ilmu, dan beragama. Sementara dalam buah kelapa sendiri juga akan banyak pemahaman hidup pula.
Baca juga : Wanita Ini Sering Pingsan Jika Lihat Pria Tampan
Sebelum menemukan isi dari buah tersebut, seseorang akan mendapati bagian luar atau kulit yakni tepes atau bagian serabut. Bagian tepes ini memiliki karakter ringan. Setelah tepes akan ditemukan tempurung yang punya karakter kuat.
Lebih kedalam, seseorang bakal menemukan daging dari buah kelapa yang enak dan memiliki banyak manfaat bagi manusia. Didalam dagingnnya ada air, dan lebih masuk kedalam pada air tersimpan rasa. Dan rasa itulah yang menurut Sunan Kalijaga dinamakan air perwira sari dan di dalamnya nanti ada jatining rasa (rasa rumangsa). (KRO/RD/POR)







