Firli Ingin Jadikan Anies Tersangka, Risiko Tinggi Dividen Besar

179

RADARINDO.co.id – Medan : Hari-hari Firli Bahuri menunjukkan kekuasaan penuhnya. Dia, selaku Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), bisa berbuat apa saja. Dia buang orang-orang lurus dari lembaga anti korupsi itu.

Baca juga : LTFW 2023 Akan Digelar Oktober di Humbahas

Saat ini Firli berusaha sekuat tenaga untuk menjadikan Anies Baswedan sebagai tersangka dugaan korupsi penyelenggaraan balap Formula E (FE). Sudah jelas tidak ada bukti-bukti korupsi, tetapi Firli ngotot agar diciptakan kasus korupsi.

Semua orang paham tujuannya. Yaitu, menggagalkan Anies ikut pilpres 2024. Agar capres lain yang mewakili keinginan oligarki bisnis tidak punya lawan tanding nantinya.

Segala macam dilakukan Firli di KPK untuk menjadikan Anies tersangka. Dia memaksa tim penyelidik KPK agar segera menaikkan kasus Formula E ke tahap penyidikan. Ini artinya akan dipaksakan Anies sebagai tersangka. Padahal, berdasarkan gelar perkara 28 September 2022, tim penyelidik menyimpulkan tidak cukup bukti untuk memenuhi permntaan Firli.

Waktu itu, para penyelidik senior terang-terangan melawan perintah Ketua. Sekarang, jenderal polisi bintang tiga ini menyingkirkan bawahannya yang menolak perintah menjadikan Anies tersangka. Firli mengembalikan Direktur Penyelidikan Brigjen Endar Priantoro dan Deputi Penindakan Brigjen Karyoto ke Polri.

Baca juga : Polsek Padang Bolak Tertibkan Kenderaan Pakai Knalpot Blong

Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mempromosikan Karyoto menjadi Kapolda Metro Jaya menggantikan Fadil Imran. Tetapi Kapolri memperpanjang masa tugas Endar di KPK karena belum ada posisi Kepolisian. Firli tak peduli. Dia tetap memberhentikan Endar dengan alasan masa kerjanya sudah habis. Luar biasa.

Dahsyat sekali tindakan Firli. Entah perintah siapa yang sedang dia laksanakan agar Anies dijadikan tersangka. Hanya Firli yang tahu siapa yang mendikte dia supaya mentersangkakan Anies. Yang jelas, kalangan oligarki bisnis tidak suka Anies ikut pilpres apalagi sampai menjadi presiden. (KRO/RD/Asyari Usman)