ZIMBABWE pernah menunjukkan kepada dunia bahwa kehancuran nilai mata uang tidak selalu datang dalam semalam, namun datang perlahan. Dimulai dari keputusan-keputusan yang terus dipaksakan, peringatan yang diabaikan, serta kebijakan yang lebih sibuk menjaga citra daripada menjaga daya beli rakyatnya sendiri.
Awalnya mungkin terlihat biasa saja. Harga naik sedikit demi sedikit. Nilai uang melemah perlahan. Masyarakat mulai mengurangi kebutuhan, menahan belanja, dan hidup dengan rasa cemas yang terus tumbuh.
Namun ketika keadaan dibiarkan terlalu lama, yang runtuh bukan hanya angka di pasar keuangan, melainkan kepercayaan rakyat terhadap masa depan.
Rakyat kecil bukan hidup dari teori ekonomi, tetapi dari harga beras, minyak, listrik, pendidikan, dan biaya hidup yang terus bergerak naik.
Indonesia seharusnya belajar dari hal itu. Menjaga kestabilan ekonomi, bukan soal pidato optimis atau proyek besar yang megah, tetapi memastikan rakyat masih mampu hidup dengan layak di negerinya sendiri.
Sebab, sejarah sudah berkali-kali membuktikan, ketika pemerintah terlalu lama mengabaikan kenyataan, yang pertama kali menanggung akibatnya selalu rakyat biasa.
Korupsi terjadi di segala line. Angka kemiskinan terus merangkak naik. Jeritan rakyat tak didengar. Air mati listrik padam kini memperlengkap penderitaan rakyat.
MBG sendiri yang menjadi program handalan Presiden Prabowo, terlihat tak efektif. Ibarat program tanpa konsep. Jadi ajang korupsi. Padahal, anggaran untuk setiap harinya mencapai lebih dari satu triliun rupiah. Jika anggaran negara terus dibiarkan bocor, itu artinya sama memposisikan Indonesia di tepi jurang. (*)




