Keagungan Kembar Mayang pada Prosesi Temu Manten

77

RADARINDO.co.id : Kembar Mayang merupakan salah satu unsur yang ditemukan dalam prosesi pernikahan adat Jawa. Meski sebagian Suku Jawa tidak menggunakannya, tetapi penggunaan Kembar Mayang pada prosesi pernikahan merupakan sebuah kebesaran dan keagungan yang disematkan keluarga besar kepada kedua mempelai.

Meskipun kedua mempelai berbeda suku, namun dengan adanya kesepakatan prosesi Kembar Mayang acap kali dipergunakan. Kembar Mayang dipergunakan saat ritual mengarak pengantin yang sudah melaksanakan akad nikah untuk ditemukan kembali dengan serangkaian acara yang yang disebut Temu Manten. Selanjutnya Kembar Mayang diletakkan di sebelah kanan kiri singgasana Raja & Ratu sehari.

Baca juga : Bupati Batu Bara Gelar Bupades ke Sei Raja

Mbah Miskun (64), ayah dari 8 orang anak merupakan sesepuh dalam hal pembuatan Kembar Mayang. Dilingkungannya di Peringgan Sekata, Desa Tumpatan Nibung, Kecamatan Batang Kuis, Kabupaten Deli Serdang, sebagian besar dari etnis Jawa, kerap memanggil beliau bila punya hajatan pernikahan.

Kembar Mayang dibuat oleh para leluhur terdahulu ternyata penuh dengan makna. Bukan sekedar pelengkap hiasan yang pada zaman dahulu kala belum mengenal rangkaian bunga plastik dan Satin seperti saat ini.

Elemen Kembar Mayang biasanya disesuaikan dengan kondisi daerah sekitar yang empunya hajatan, namun secara umum adalah Janur Kuning, dedaunan yang terdiri dari daun pohon Beringin, Daun Puring dan Daun Andong, Mayang Buah Pinang serta Debog Pisang untuk tempat rangkaiannya.

Kembar Mayang secara umum dimaknai hendaknya kedua mempelai satu sepemikiran. Ini disimbolkan sebelum akad nikah dua pemikiran tersebut masih berbeda setelah adanya Ijab Qabul akad nikah maka sudah disatukan oleh sebuah ikatan yang suci.

Baca juga : Bupati Tutup Pentas Seni Qasidah ke III Lasqi Batu Bara 2023

Janur Kuning, yang berwarna cerah merupakan simbol kegembiraan dan keanggunan. Janur Kuning dalam bahasa Jawa merupakan Singkatan dari Sejatine Nur atau dalam bahasa Arab, Ja’a Nur yang bermakna cahaya telah tiba. Kuning bermakna Tekun Ngeningakhe yang bermakna Tekun dan sabar dalam mengingatkan dan selalu Istiqomah untuk saling memberi nasehat dalam membina mahligai rumah tangga.

Sementara dari Janur Kuning sendiri oleh Mbah Miskun masih dirangkai lagi menjadi hiasan dan simbol seperti sepasang Belalang, sepasang Burung, sepasang Padi-padian, sepasang Keris-kerisan, sepasang Kembang Cangkok Wijayakusuma dan sepasang Pecut-Pecutan. Hal ini dibuat bukan sekedar hiasan semata melainkan ada maknanya juga.

Mayang yang dipergunakan adalah dari Buah Pohon Pinang yang bermakna, mekarnya pemikiran setelah membentuk mahligai rumah tangga dan mendharma baktikannya pada lingkungan sekitar. Sementara untuk orang yang meninggal dunia sebelum menikah tidak menggunakan simbol Mayang Pinang dan penyebutannya juga berbeda menjadi Gagar Mayang karena sudah gugur terlebih dahulu.

Kembar Mayang sendiri menurut Mbah Miskun punya sebutan tersendiri, Kembar Mayang Sekar Parijodoh, Kembang Panca Warna sing Megar’e sewengi mengigat tidak ada bunga yang mekar bersamaan dalam waktu satu malam maka Kembar Mayang hanya untuk orang yang berjodoh.

Pada saat tengah malam setelah selesai pembuatan Kembar Mayang maka yang sebenarnya diadakan serah terima kepada yang empunya hajatan dengan sebutan Tebusan atau dimahari dengan Ayam Kemanggang dan Sajen Sego Sembunyo yang isinya Nasi beserta lauk pauk yang dimasak hari itu juga oleh si tuan rumah. (KRO/RD)