Tak Terima Anaknya Disiksa, Rivay Laporkan KPLP Kelas IIA Pematangsiantar ke Kemenkumham

137

Radarindo.co.id – P. Siantar : Kepala Pengamanan Lembaga Pemasyarakatan (KPLP) Kelas IIA Pematangsiantar, Raymon Andika Girsang, dilaporkan orangtua warga binaan pemasyarakatan (WBP) ke Kemenkumham RI atas dugaan tindak penganiayaan dan tindak pidana peredaran narkoba di dalam Lapas.

Baca juga : Polda Sumut Gelar Razia Tempat Hiburan Malam

Sebagai pelapor sekaligus orangtua WBP, M Rivay Siregar mengungkapkan bahwa anaknya kerap mengalami penganiayaan selama menjalani masa hukuman di dalam penjara.

Dijelaskannya, Raymon Andika Girsang (RAG) diduga menyalahgunakan jabatannya sebagai KPLP dengan sewenang-wenang menyiksa WBP bahkan dituding sebagai dalang pemasok peredaran narkoba kedalam Lapas.

Diatas materai, Rivay meneken secara resmi surat laporan yang ditujukan ke Kemenkumham RI. Dalam surat itu, Rivay merinci beberapa dugaan kejahatan yang dilakukan Raymon Andika Girsang, diantaranya adalah dalang dan otak dibalik peredaran narkoba didalam lapas tersebut. Dimana RAG yang menentukan siapa yang bisa memasukkan sabu (buah) kedalam lapas, yakni diduga berinisial JETA.

RAG juga diduga menentukan pengedarpemegang “bendera” sabu didalam lapas yang saat ini dipegang berinisial JH dan BL.

Dalam surat juga disebutkan, atas pesanan komplotan bandar narkoba dari luar lapas, RAG dengan suka-suka memindahkan/mengirim WBP ke lapas daerah lain pada tengah malam tanpa diketahui WBP apa kesalahannya, seperti yang dialami keluarga Rudi Siregar beberapa waktu lalu.

Tak hanya itu, RAG disebut sesuka hatinya menjebloskan para WBP yang tidak disukainya ke ruang tahanan Strapsel tanpa batas waktu tertentu, tergantung kemauan dari RAG. Bahkan menurutnya, ada WBP yang sudah satu tahun ditahan RAG di Strapsel.

“RAG telah menjadikan gudang yang baru dibangun Blok Enggang sebagai basis kerajaan bisnis Narkoba dan Parengkol yang dikoordinirnya. Di Blok Enggang inilah RAG menempatkan Jeta, JH, BL dan beberapa lainnya sebagai pemegang ‘bendera’ dan pengedar sabu serta menentukan kamar kerja Parengkol. Blok Enggang ini hanya dijaga oleh dua orang petugas sipir kepercayaan RAG. Yaitu Andre dan Simaremare. Dan Blok Enggang ini hanya boleh dikunjungi atas ijin dari RAG. Bagi WBP yang bukan penghuni Blok Enggang dan coba-coba mendekati akan mendapat hukuman berat dari RAG,” bebernya.

Dikatakannya bahwa hampir setiap malam, terutama malam Minggu, RAG dan para petugas yang menjadi komplotannya melakukan pesta musik dan minuman keras didalam lapas tersebut. “Apabila sudah agak mabuk maka RAG dengan dikawal anggota-anggotanya seperti RP, HU dan AM akan berkeliling ke kamar WPB, kemudian RAG akan menganiaya beberapa WBP yang tidak disukainya,” ungkapnya.

Kepada media, Rivay mengungkapkan segala bentuk ketidakadilan yang dialami anaknya semasa menjalani hukuman di dalam penjara. Ia menyebutkan, anaknya sempat mengalami depresi tak lama setelah bebas dari Lapas.

Baca juga : Jampidsus Kejagung Diminta Buka Aliran Dana PT. KPBN Borong Saham PT. SAN dan PT. ESW

“Sebagai orang tua tentunya saya sangat keberatan atas apa yang dialami anak saya. Seharusnya didalam Lapas adalah tempat pengayom dan tempat berbenah diri, ini kok malah berbalik seperti neraka. Perlu saya tegaskan, bila diperlukan nantinya anak saya siap memberikan keterangan jika ada tuntutan,” katanya di sebuah Cafe di Siantar, Minggu (15/10/2023).

Rivay berharap agar surat laporannya segera diproses dan mendapat perhatian serius dari Kementerian Hukum dan HAM RI agar tidak mencederai reputasi yang sudah terbangun. Rivay juga memohon agar KPLP Raymod segera dicopot dari jabatannya.

“Saya meminta kepada Menteri Hukum dan HAM khususnya bapak Dirjenpas untuk segera mengusut segala bentuk tindak pelanggaran di Lapas Siantar. Khususnya mencopot RAG sebagai KPLP dan komplotannya dan tidak menempatkan RAG sebagai pimpinan di Lapas manapun,” harap Rivay.

Sementara, KPLP Lapas Kelas IIA Pematangsiantar ketika dikonfirmasi membantah soal dugaan penganiayaan dan kejahatan yang dilakukannya sebagaimana tertulis dalam laporan.

“Ini atas nama siapa saya menganiaya. Yang pasti informasi itu tidak benar,” jawab Raymon via pesan WhatsApp. (KRO/RD/Amy S)