Ragam  

Beberapa Negara Asia Hadapi “Resesi” Seks

RADARINDO.co.id : Beberapa negara Asia khususnya di Kawasan Asia Timur Tengah, sedang menghadapi ‘resesi seks’. Tentunya, hal tersebut dapat mengancam tumbuhnya populasi manusi. Hal ini mengacu pada kondisi rendahnya angka perkawinan dan keengganan untuk berhubungan seks.

Dikutip dari cnbc, ada beberapa faktor yang menyebabkan hal ini termasuk keinginan yang berkembang di kalangan wanita muda pekerja untuk menikmati kebebasan dengan menjadi lajang dan berkarir. Pria mengatakan mereka juga menikmati menjadi lajang, tetapi juga menyuarakan keprihatinan atas keamanan pekerjaan dan kemampuan mereka untuk menafkahi keluarga.

Baca juga : Orang Terkaya di Dunia Rela Danai Demi Cari Harta Karun

Negara Asia yang “dihantui resesi” seks diantaranya Korea Selatan. Korea Selatan (Korsel) saat ini sedang dihantui dengan ‘resesi seks’ atau penurunan populasi manusia. Hal itu karena, warga Korsel menolak untuk memiliki keturunan. Berdasarkan data pemerintah Korsel, Negeri Ginseng ini hanya mencatat tingkat kesuburan 0,81% pada 2021. Idealnya, satu negara harus memiliki tingkat kesuburan 2,1% untuk menjaga populasi.

Kemudian, Jepang. Negara Jepang menjadi salah satu negara dengan yang paling hebat dihantam fenomena tersebut. Dalam sebuah laporan resmi terbaru, angka pria dan wanita di Jepang yang tidak ingin menikah telah memecahkan rekor terbaru pada tahun 2021.

Dalam rilis terbaru Institut Nasional Kependudukan dan Jaminan Sosial, ditemukan bahwa 17,3% pria dan 14,6% wanita berusia antara 18 dan 34 tahun di Jepang mengatakan mereka tidak berniat untuk menikah. Angka ini merupakan yang tertinggi sejak kuesioner pertama kali dilakukan pada tahun 1982.

Penurunan jumlah pernikahan memiliki konsekuensi terhadap tingkat kelahiran Jepang. Diketahui, negara itu telah mengalami pertumbuhan penduduk yang negatif sehingga mengancam perekonomiannya di masa depan.

Baca juga : Bumbu Dapur Ini Ternyata Bisa Tingkatkan Gairah Seks

Selanjutnya adalah China yang dilaporkan tengah mengalami ‘resesi seks’, karena dalam satu dekade terakhir angka kelahiran turun ke tingkat terendah sejak tahun 1960-an. Saat ini angka kelahiran di China pada 2020 lalu merupakan terendah dalam 43 tahun terakhir.

Dalam pemberitaan media resmi China, Global Times,Biro Statistik Nasional China mengumumkan tingkat kelahiran pada tahun 2020 tercatat 8,52 per seribu orang. Selain itu, badan resmi pemerintah itu mencatat bahwa tingkat pertumbuhan alami populasi menyumbang 1,45 per seribu, nilai terendah dalam 43 tahun. (KRO/RD/CNBC)