Komisi VI DPR RI Seharusnya Desak KPK Usut Utang Kimia Farma Rp8,7 Triluan

8

RADARINDO.co.id-Medan: Komisi VI DPR RI jangan hanya menyoroti rencana restrukturisasi utang PT Kimia Farma Tbk tapi harus memberikan rekomendasi agar Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) segera mengusut motif dibalik utang PT Kimia Farma sebesar Rp8,7 triliun.

Baca juga : PKS Dukung Bobby Nasution di Pilkada Sumut 2024

Sejumlah sumber memberikan respon beragam kepada RADARINDO.CO.ID mencurigai utang Kimia Farma berawal dari pengelolaan manajemen buruk sehingga finansial terganggu.

Bahkan utang tersebut diduga untuk menutupi kekosongan kas perusahaan yang karena adanya kegiatan perusahaan yang tidak sesuai rencana kerja anggaran perusahaan (RKAP) Setiap tahun.

Hal ini disampaikan sumber Ibrahim Tondi Nasution belum lama ini terpaksa angkat bicara terkait Hutang-hutang BUMN yang realisasi penggunaan hutang dari pinjaman kredit bank diduga tidak sesuai peraturan perundangan undangan yang berlaku.

Anggota Komisi VI DPR RI Harris Turino, mengaku mendengar informasi itu.
Ia menyebut jumlah kredit Kimia Farma yang bakal direstrukturisasi Rp 8,7 triliun. PT BNI disebut menjadi salah satu pemberi kredit kepada Kimia Farma.

“Saya mendengar akan ada restrukturisasi utang Kimia Farma yang besarnya Rp8,7 triliun dan kemungkinan yang paling banyak (memberikan kredit) adalah (BNI), krediturnya adalah bapak, ya, pak? BNI ya?” kata Harris dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) di Kompleks DPR RI, Jakarta Pusat, Senin (8/7/2024).

Harris mewanti-wanti Direktur Utama BNI Royke Tumilaar soal kabar tersebut. Menurutnya, jangan sampai restrukturisasi utang Kimia Farma menjadi pengalihan kerugian dari satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ke perusahaan pelat merah lain.

Baca juga : PDAM Tirtanadi Dituding Sarang KKN

Royke membantah jika disebut pihaknya menjadi pemberi kredit terbesar ke Kimia Farma, menurutnya ada BUMN lain yang juga terlibat. Ada sekitar 19 pemberi kredit ke ke Kimia Farma.

“Ya, nggak semua BNI. Semua BUMN ada lah. Sama lah, kita sudah antisipasi Kimia Farma. Kita harus restrukturisasi, kita lihat, Kimia Farma bisnisnya kan juga masih ada yang jalan, bagus kan. Jadi restrukturisasi pasti akan jalan dengan Kimia Farma,” sambungnya.

Kimia Farma Rugi
Sebelumnya berdasarkan catatan detikcom, PT Kimia Farma Tbk mencatatkan kerugian Rp1,82 triliun pada 2023. Direksi perusahaan pelat merah bidang farmasi ini pun membeberkan penyebabnya.

Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Lina Sari mengatakan kerugian 2023 disebabkan masalah operasional perusahaan. Dia juga bicara efisiensi menjadi 5 pabrik dari total 10 pabrik.

Penyebab lainnya, lanjut Lina, adanya dugaan pelanggaran integritas penyediaan data laporan keuangan perusahaan tersebut pada periode 2021-2022. Terkait hal tersebut, dia bilang belum dapat menjelaskan lebih detail karena masih dalam progress.

Meskipun demikian, Lina menyebut salah satu upaya perbaikan perusahaan adalah melakukan reorientasi bisnis dan restrukturisasi keuangan dalam rangka menjaga kinerja perseroan tumbuh positif dan berkelanjutan.

Komisi VI DPR RI diminta segera menerbitkan rekomendasi agar KPK segera memeriksa Kimia Farma dicurigai pimpinan manajemen bekerja tidak mengedepankan prinsip kehati-hatian sehingga berpotensi merugikan keuangan perusahaan. (KRO/RD/DTK)