Pemasangan Sheet File Renggang Proyek Pengendalian Banjir Sungai Deli Tak Profesional

456 views

RADARINDO.co.id-Belawan: Kontraktor PT. SAI selaku pelaksana proyek Pengedalian Banjir Sungai Deli, diduga terkesan tidak profesional dalam memasang tiang pancang sheet file.

Hal itu terlihat dari adanya sheet file yang dipasang renggang alias tidak rapat pada proyek tersebut.

Dimana pekerjaan yang bernama Proyek Pembangunan Prasarana Pengedalian Banjir Sungai Deli berbiaya Rp18 miliar lebih milik Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera II Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) itu, pemancangan sheet file-nya baru tahap awal pelaksanaan.

Baca juga : Cerocok Proyek Banjir Rob Belawan Berbiaya Puluhan Miliar Rupiah Banyak yang Patah


Yakni baru dipancang sekitar 10 meter dari rencana sepanjang 60 meter. Sejumlah warga minta pihak kontraktor segera membongkar ulang pemasangan tersebut.

Proyek yang pembiayaannya bersumber dari APBN Tahun Anggaran 2022 yang dikerjakan kontraktor PT. SAI tersebut, berlokasi di Simpang Aloha Kecamatan Medan Labuhan, Kota Medan.

Pantauan RADARINDO.co.id GROUP KORAN RADAR di lokasi proyek Sabtu (26/11/2022) siang, tampak pengerjaan total keseluruhan proyek, baru berjalan sekitar 15 persen. Padahal Tahun Anggaran 2022 sudah akan berakhir.

Diperkirakan penyelesaian pembangunannya kemungkinan tidak tepat waktu.
Project Manager PT. SAI, Ir. Donald Sigalingging yang ditemui media ini di lokasi proyek pada Sabtu, mengatakan sheet file yang renggang itu akan dibuat rapat.

“Nanti yang renggang itu akan diisi beton saat ngecor nanti. Atau nanti digeser-geser sikit biar rapat. Pokoknya nanti disetel lagi lah”, ujar Galingging.

Ditanya berapa ukuran panjang sheet file yang digunakan di dalam proyek, Galingging mengatakan 12 meter, “Panjang Sheet file-nya 12 meter. Sementara kalau panjang proyeknya ini 60 meter”, ujarnya.

Lebih jauh dikatakan Galingging bahwa proyek pengendalian banjir tersebut tidak hanya di Aloha tapi juga ada di Kelurahan Pekan Labuhan. Ada di 2 lokasi.

“Kalau yang disana (di Kelurahan Pekan Labuhan-red) nanti lebih panjang dari yang disini. Disana panjangnya 100 meter lebih lah. Nanti selesai disini baru kita lanjut ngerjakan yang disana”, ujar Galingging sebagai Project Manager Bidang Teknis.

Proyek pengendalian banjir berikut pembersihan tanggul/normalisasi sungai itu, juga dilakukan pengorekan pada lokasi sungai yang dangkal agar arus air menjadi lancar. Dan tanah hasil korekan tersebut menurut Galingging akan ditempatkan di dua lokasi lapangan di sekitar proyek.

Menanggapi renggangnya pemancangan sheet file proyek Pengendalian Banjir Sungai Deli tersebut, salah seorang warga Medan Utara, Z Limbong, berharap agar sheet file dicabut dan dipancang ulang.

“Kalau boleh saya ingatkan agar jangan sepele dengan renggangnya sheet file itu. Walaupun celahnya kecil tapi lama kelamaan bisa membuat sheet file jadi tumbang. Apalagi proyek itu berada di tikungan sungai yang ekstrim. Itu sangat berbahaya”, ujarnya.

Limbong menuturkan pengalamannya melihat proyek pemancangan sheet file di Sungai Deli di Jalan Young Panah Hijau Kelurahan Labuhan Deli Kecamatan Medan Marelan pada sekitar tahun 2010 silam. Proyek yang juga milik BWS Sumatera II itu gagal total setelah berusia baru sekitar 3 tahun. Dimana semua sheet filenya tumbang ke sungai.

“Kasusnya waktu itu saya rasa gara-gara renggang juga. Jadi di celah yang renggang itu sering keluar masuk air sungai dari ombak perahu nelayan, sehingga tanah yang ada di balik sheet file sering tergerus ke sungai dan lama kelamaan tanah tanggulnya habis dan sheet file goyang karena ombak dan akhirnya tumbang”, tuturnya menganalisa.

Baca juga : Erick Thohir Sah Jadi Orang Batak Bermarga Sidabutar

Ia juga mengatakan tumbangnya proyek pemancangan sheet file Perkuatan Tanggul Kritis di Sungai Deli sudah terjadi dua kali.

“Kalau gak salah saya sudah dua kali tumbang. Kejadian yang kedua berlokasi terjadi tidak jauh dari lokasi tumbangnya sheet file pertama. Waktu itu saya sempat ambil fotonya. Bahkan kalau gak salah pihak Kejaksaan pun sudah pernah mengeceknya”, kenang Limbong.

“Maunya pihak BWS selaku pemerintah pengelola proyek menjadikan hal itu sebagai pengalaman berharga dan dapat mengantisipasi agar tidak terjadi lagi hal yang serupa di kemudian hari. Jangan sampai miliaran rupiah uang rakyat jadi terbuang sia-sia”, ujar pria slow profile yang juga aktif di bidang pemerhati sosial itu.

Hingga berita ini dilansir pihak aparar penegak hukum belum memberikan keterangan.
(KRO/RD/Ganden)