Ragam  

Produksi Sperma yang Menurun Dapat Sebabkan Kemandulan

RADARINDO.co.id : Sebuah penelitian mengungkapkan, jumlah sperma pria secara global telah menurun lebih dari 62 persen sejak tahun 1973 hingga 2018. Hal ini dianggap mengkhawatirkan karena disebut dapat menyebabkan krisis reproduksi.

Lebih detail, studi yang diterbitkan dalam jurnal Human Reproduction Update ini menemukan bahwa konsentrasi sperma di kalangan pria turun sebanyak 51 persen, yakni dari 101,2 juta menjadi 49 juta sperma per mililiter dalam periode yang sama.

Baca Juga : Ini Cara Wanita Sentuh Lengan Pria dan Maknanya

Kendati demikian, angka tersebut masih di atas rata-rata jumlah sperma ideal berdasarkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yakni 15 juta per mililiter. Jika seorang pria memiliki jumlah sperma di bawah angka tersebut, ia dianggap memiliki konsentrasi sperma yang rendah.

Dilansir dari cnnindonesia, Ketua Studi sekaligus Profesor dari Hebrew University Hagai Levine mengatakan ,meski masih berada di atas angka yang ditetapkan WHO, namun penurunan tersebut masih terbilang mengkhawatirkan.

“Kita memiliki masalah serius yang jika tidak diatasi dapat mengancam kelangsungan hidup umat manusia,” kata ahli epidemiologi tersebut dalam sebuah pernyataan.

Penelitian yang berisi data selama 7 tahun tersebut mencakup 53 negara dan mengamati 223 studi berdasarkan sampel sperma lebih dari 57.000 pria. Beberapa peneliti dari negara lain yang ikut bergabung dalam studi tersebut mempelajari tren jumlah sperma di area-area yang belum pernah ditinjau sebelumnya.

Hingga saat ini, menurut Levine, belum ada bahasan mengenai apa yang menjadi penyebab penurunan jumlah produksi sperma tersebut. Namun, beberapa penelitian lain telah mengaitkan penurunan jumlah sperma dengan beberapa hal, diantaranya obesitas, gaya hidup sedentari, kebiasaan merokok, serta paparan bahan kimia dan pestisida.

Baca Juga : Ini Gejala ‘Menopause Dini’ Pada Pria yang Harus Diwaspadai

Penelitian ini juga menjadi alarm bagi kesehatan reproduksi pria secara menyeluruh. Pasalnya, jumlah sperma yang rendah dikaitkan juga dengan peningkatan risiko penyakit kronis, kanker testis, dan penurunan angka harapan hidup. (KRO/RD/CNN)