RADARINDO.co.id – Jakarta : Setelah lama “membisu”, Menteri Keuangan RI, Sri Mulyani Indrawati, akhirnya bersuara juga soal pernyataannya yang menyebut guru sebagai beban negara.
Dimana diketahui, dalam video yang beredar luas, Sri Mulyani Indrawati mengatakan bahwa “guru itu beban negara”.
Baca juga: Barang Berharga dari Rumah Eko Patrio Digondol Massa
Hal itu diungkapkan Sri Mulyani saat berpidato dalam Forum Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia di Institut Teknologi Bandung (ITB) pada 7 Agustus 2025 lalu. “Guru itu beban negara,” demikian bunyi pernyataan dalam video yang kemudian viral.
Dalam klarifikasi yang disampaikan Sri Mulyani di akun Instagram miliknya, @smindrawati, ia menegaskan bahwa ucapannya yang dipotong tersebut adalah kabar hoax hasil deepfake yang disebarkan oleh oknum tak bertanggungjawab.
“Potongan video yang beredar yang menampilkan seolah-olah saya menyatakan guru sebagai beban negara adalak HOAX,” tulis Sri Mulyani, dikutip, Senin (01/9/2025).
Sri Mulyani menyatakan, dirinya sama sekali tak pernah mengeluarkan kata-kata yang menyinggung para guru tersebut. Dia mengajak masyarakat untuk bijak dalam bermedia sosial.
“Faktanya, saya tidak pernah menyatakan bahwa guru sebagai beban negara. Marilah kita bijak dalam bermedia sosial,” ucapnya.
Untuk diketahui, saat ucapan Sri Mulyani soal guru beban negara adalah hasil deepfake dan potongan video tak utuh dalam Forum Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia di ITB pada 7 Agustus lalu.
Dalam acara itu, Sri Mulyani pada awalnya menyoroti isu kesejahteraan tenaga pendidik dalam pidatonya terkait alokasi APBN 2025. Ia menyebut, anggaran untuk sektor pendidikan tahun depan mencapai Rp724,3 triliun.
Meski angka tersebut sangat besar, Sri Mulyani menilai masih ada tantangan dalam pengelolaan, terutama terkait rendahnya gaji guru dan dosen.
Baca juga: Kejagung Amankan Buronan Kasus Pajak Theng Hong Sioe
“Banyak di media sosial, saya selalu mengatakan, menjadi dosen atau menjadi guru tidak dihargai karena gajinya enggak besar. Ini juga salah satu tantangan bagi keuangan negara,” ujar Sri Mulyani.
Sri Mulyani mempertanyakan apakah masalah kesejahteraan guru dan dosen bisa sepenuhnya ditopang oleh APBN, atau justru perlu ada solusi lain yang melibatkan pihak eksternal.
Kendati demikian, Sri Mulyani tidak menjelaskan lebihlanjut mengenai bentuk partisipasi masyarakat yang ia maksud maupun mekanisme penerapannya. (KRO/RD/KP)







