Ragam  

Diduga Lakukan Pungli, Oknum Kepala SDN Dicopot

RADARINDO.co.id – Bekasi : Diduga melakukan pungutan liar (pungli), oknum Kepala SDN di Jaticempaka, Pondok Gede, berinisial SM, dicopot dari jabatannya oleh Walikota Bekasi, Tri Adhianto.

Usai pencopotannya dari jabatan strategis selaku kepala sekolah, kini SM bertugas sebagai guru biasa di sekolah tersebut.

Baca juga: Polisi Bidik Dugaan Korupsi Dana CSR PT SPRH Rp19 Miliar

“Kepala sekolahnya sudah kami nonjobkan, sudah tidak memegang jabatan, lalu dia sekarang masih sebagai guru,” ujar Tri, Rabu (23/7/2025).

Meski tak lagi mengemban jabatan sebagai kepala sekolah, kinerja SM sebagai guru tetap diawasi pemerintah.

Nantinya, Dinas Pendidikan (Disdik) serta Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) akan melaporkan hasil evaluasi kinerja SM ke Tri secara berjenjang.

“Kepala sekolah yang melaporkan ke Dinas Pendidikan (Disdik), kemudian Disdik melaporkan ke BKPSDM, dan BKPSDM melaporkan kepada Walikota,” sebutnya.

Menurut Tri, untuk mengisi kekosongan posisi kepala sekolah, pemerintah akan menunjuk pelaksana tugas (Plt). Namun, sejauh ini belum ada keputusan sosok Plt pengganti SM. Untuk itu, Tri menginstruksikan BKPSDM segera mengeluarkan surat keputusan mengenai Plt Kepala SDN tersebut.

“Saya minta kepada Kepala BKPSDM untuk mengeluarkan surat Plt-nya dan kalau Plt-nya sudah ada nanti Plt-lah yang berhak duduk di tempat dia (kepala sekolah) sekarang, jadi perlu kehati-hatian dan perlu kesabaran,” imbuh Tri.

Sebelumnya, Senin (21/7/2025), orangtua murid melapor ke Walikota Bekasi, Tri Adhianto, terkait dugaan pungli yang dilakukan Kepala SDN berinisial SM di wilayah Jaticempaka, Kecamatan Pondok Gede, Kota Bekasi.

Sejumlah orangtua murid memaparkan dugaan pungli dalam bentuk permintaan uang. Diantaranya untuk biaya sampul raport hingga pembelian alat-alat kelas.

Baca juga: Bikin Resah, Warga Minta Galian C Ilegal di Lahan HGU PTPN I Dihentikan

Bahkan, setiap menandatangani ijazah, SM disebut mengutip uang Rp15 ribu kepada para anak didiknya, dengan alasan untuk “uang capek”.

Mirisnya lagi menurut para orangtua murid, sejak awal tahun ajaran, buku pelajaran tidak pernah lengkap. Akibatnya, siswa sempat hanya belajar dari catatan guru. (KRO/RD/KP)