Petan, Tradisi Lawas yang Masih Dilakukan Hingga Kini

85

RADARINDO.co.id : Petan atau mencari kutu, merupakan tradisi lawas alias kuno, namun masih asyik untuk dilakukan hingga saat ini. Biasanya, petan dilakukan oleh kaum ibu untuk mencari kutu rambut yang bikin kepala cukup gatal dan tentunya sangat mengganggu.

Kutu rambut selalu berusaha menguasai kepala manusia tanpa pandang bulu. Keberadaanya selalu tersembunyi, namun. Kutu merupakan hewan kecil yang sangat mengganggu. Kedekatannya dengan manusia tak disangsikan lagi dari dahulu hingga saat ini.

Baca juga : Pelajar UPT SDN 017 Pandau Jaya Siak Hulu Belajar Menabung

Melansir jernih.co, kutu rambut adalah hama laten bagi manusia tanpa memandang strata, dan rambut kepala seolah ditakdirkan sebagai rumah bagi kutu. Namun kepala yang dihuni kutu tidak dapat dijadikan tuduhan bahwa orang tersebut hidup jorok.

Seseorang yang selalu menjaga kebersihan pun tak luput dari serangan kutu. Banyaknya jumlah kutu di rambut bukan ukuran kebersihan, karena kutu bisa berpindah dari satu kepala ke kepala lainnya tanpa memandang rambut bersih dan kotor.

Sejauh ini, kutu kepala tidak berbahaya dan tidak menyebarkan penyakit. Hanya saja, mengakibatkan rasa gatal yang cukup mengganggu.

Mencari kutu, secara psikologis menimbulkan kenikmatan bagi keduanya sebagai subjek dan obyek, aktif serta pasif. Gerakan tangan pencari kutu terasa membuai menenangkan dan membuat ngantuk bagi si pemilik kutu.

Sedangkan bagi pencari kutu, pengerahan konsentrasi dan kejelian serta keterampilan jari jemari saat ‘nyaliksik’ berburu kutu akan berbuah kenikmatan tiada tara ketika berhasil menangkap kutu atau kerabatnya seperti telur kutu dan kuar (anak kutu).

Baca juga : Kades Pandau Jaya Kunjungi dan Santuni Anak Penderita Cerebral Palsy

Puncak kepuasan itu adalah kegemasan yang diverbalkan dengan tindakan menindes si kutu dengan kuku jari atau digigit tanpa ampun. Suara ‘peletuk’ sebagai tanda pecahnya tubuh kutu adalah momen sakral, buncah kenikmatan bagi kedua belah pihak.

Bagi seorang ibu yang mencari kutu di kepala anaknya adalah momentum untuk menggelontorkan nasehat bijak dan petuah agama secara sederhana. Akhirnya, keberadaan kutu di rambut manusia menjadi tradisi yang asyik dan masyuk. (KRO/RD/JER)