Berikut Beberapa Hal Anggota TNI Serang Warga di Deli Serdang

RADARINDO.co.id – Deli Serdang : Puluhan anggota TNI Batalyon Armed 2/Kilap Sumagan diduga melakukan penyerangan terhadap warga di Kecamatan Sibiru-biru, Kabupaten Deli Serdang. Seorang warga bernama Raden Barus (60) tewas dalam insiden tersebut.

Mengutip detiksumut, Selasa (19/11/2024), berikut beberapa hal terkait penyerangan anggota TNI Batalyon Armed 2/Kilap Sumagan terhadap warga Kecamatan Sibiru-biru, Kabupaten Deli Serdang.

Peristiwa penyerangan itu terjadi pada Jumat (8/11/2024) sekira pukul 23.00 WIB. Seorang warga bernama Rofikar Tarigan (18) mengaku turut menjadi korban penyerangan itu.

Baca juga: Kapolda Pimpin Penggerebekan Pembuangan Limbah Medis Ilegal

Dia menyebut awalnya dirinya keluar rumah untuk membeli rokok. Lalu, dia melihat segerombolan orang masuk ke perkampungan tersebut. Pada akhirnya, dia memutuskan untuk lari ke rumah neneknya yang berada di desa tersebut.

Rofikar mengungkap, orang-orang tersebut mendobrak pintu rumah neneknya dan menanyakan soal keadaan seseorang bernama Andre Ginting. Rofikar mengaku tidak mengenali orang yang dicari tersebut.

Setelah kejadian, Rofikar dibawa ke Asrama Armed yang berada di dekat lokasi kejadian. Rofikar mengaku dirinya sempat dipukuli oleh sekitar 50 orang menggunakan senjata tajam, double stick, dan pistol. Akibat kejadian itu, dia mengaku mengalami kepala bocor, memar di punggung dan tangan bengkak.

“Kalau yang pukuli saya sekitar 50 orang ada, ada yang pakai sajam, double stick, macam-macam. Luka di kepala bocor, punggung saya penuh memar, sama di tangan bengkak dihantam pakai pistol,” sebutnya.

Kapendam I/BB, Kolonel Inf Dody Yudha mengatakan, ada 33 anggota TNI yang terlibat dalam penyerangan itu. “Yang diduga oknum terkonfirmasi ada 33 orang (anggota TNI),” kata Dody Yudha.

Dody mengatakan, seluruh oknum prajurit yang terlibat itu dilakukan pemeriksaan lanjutan di Pomdam I/BB. Kolonel Dody belum memerinci motif penyerangan itu. Dia mengatakan pihaknya masih menyelidikinya.

Dody menambahkan, Pangdam I/BB sudah melakukan mediasi dengan pihak korban. Sementara delapan warga yang menjadi korban penyerangan, sudah dipindahkan ke Rumah Sakit Putri Hijau untuk tindakan medis yang intensif.

Sementara, Pangdam I/BB, Letjen Mochammad Hasan merespons soal penyerangan yang dilakukan 33 anggotanya. Hasan mengucapkan permohonan maaf atas insiden tersebut.

“Saya Letnan Jenderal TNI Mochammad Hasan Pangdam I/BB menyampaikan permohonan maaf sedalam-dalamnya atas peristiwa yang terjadi,” kata Hasan saat menghadiri prosesi pemakaman Raden Barus.

Hasan mengaku bersedia menukar nyawanya dengan nyawa korban Raden Barus, jika memang hal itu diperlukan. Dia menyebut kepergian korban tentunya meninggalkan luka yang mendalam bagi keluarga.

“Sekali lagi atas nama keluarga besar Kodam I/BB, kami memohon maaf sebesar-besarnya, kalau pun saya harus menggantikan almarhum, saya siap untuk menggantikan sekarang, saya ikhlas, kepergian almarhum meninggalkan duka kepada keluarga,” jelasnya.

Baca juga: Rumah Zainuddin Luluhlantak Dihantam Air Bah dan Puting Beliung

Sedangkan, Panglima TNI, Jenderal Agus Subiyanto menjelaskan, kasus ini bermula saat anggota TNI menegur kelompok anak muda yang kebut-kebutan saat mengendarai motor.

“Jadi, memang diawali anak-anak muda kebut-kebutan pakai motor ditegur sama anggota karena mengganggu masyarakat, meresahkan masyarakat, mengganggu ketertiban di jalan,” kata Panglima TNI, Senin (11/11/2024).

Menurut Agus, selepas teguran itu, kemudian terjadi adu mulut dan perkelahian massal. Agus mengatakan, genk motor yang meresahkan warga harus ditertibkan. Agus menekankan prajurit TNI itu menegur anggota genk motor, bukan warga yang melintas. (KRO/RD/Dtk)