Layang-layang Laga, Simbol Gesekan Sosial dalam Perspektif Demokrasi

24

RADARINDO.co.id-Medan: Apakah anda pernah memainkan laga Layang-layang pada saat masih anak-anak? Atau pada satu kesempatan luang dimasa liburan bersama keluarga atau rekan-rekan kerja. Kalaupun tidak pernah dan tak harus memainkannya, itu karena banyak ragam permainan yang lainnya.

Baca juga : Ini Makanan Rendah Gula yang Aman Bagi Penderita Diabetes

Begitulah halnya pola bermain Layangan laga yang ada persamaannya dengan proses demokrasi yang sebentar lagi akan kita laksanakan pada 14 Februari 2024.

Pola permainan politik lebih sering dan mirip dengan permainan Catur. Ada simbol-simbol disana. Simbol rakyat, simbol prajurit, pejabat, panglima dan sang raja. Mengapa dan apa hubungannya dengan permainan laga Layangan sehingga disangkutpautkan dengan proses demokrasi?

Pada permainan laga Layangan, si pemain akan berusaha agar layangan tersebut mampu mencapai ketinggian tertentu dan selanjutnya diarahkan agar Layang-layang lawan benangnya putus. Yang tetap stabil dialah sebagai pemenang.

Begitulah juga halnya dengan proses demokrasi. Si kontestan akan berjuang dengan harapan tinggi, semangat tinggi dan biaya yang yang banyak.
Ada dampak buruk dari demokrasi yang baik itu. Persahabatan akan retak hingga akhirnya tak saling bertegur sapa lagi.

Gesekan benang silaturahmi akan putus dan Layang-layang yang indah itu akan terbang entah kemana terbawa angin.
Seringkali dalam proses berdemokrasi kita kebablasan membabi buta, banyak kita tonton dan dengar di medsos TikTok, Facebook, Instagram, Twitter dan platform digital lainnya, mencemooh dengan ujaran kebencian yang menyakiti perasaan untuk menjatuhkan kontestan lainnya.

Padahal yang kita dukung itu saat kita terjerat masalah dengan persoalan hukum, dia tidak mau tau dengan diri kita. Dan pada akhirnya keluarga juga yang menderita.

Konsekwensi proses demokrasi yang berbiaya tinggi memungkinkan Sang Pemain berusaha agar sosoknya tetap unggul dalam Pemilu. Karena demokrasi tidak boleh memakai hati nurani yang memberi ruang rasa iba, nilai kejujuran dan setia kawan melainkan harus menggunakan akal pikiran dalam memainkan siasat dan trik agar unggul, bila perlu melakukan kecurangan.

Pada olahraga atau bidang profesi yang lainnya kita sering jumpa konsep “mundur dengan cara terhormat” seringkali dilakukan bila dirasa tidak puas dengan keputusan tim pengadil atau wasit atau “lebih baik kalah dengan cara kesatria dan terhormat daripada mundur sebelum bertanding”.

Baca juga : Ini Manfaat Angkat Kaki ke Tembok Bagi Kesehatan

Beda halnya bila bicara demokrasi dan politik, akan terhormat sebagai pemenang meskipum melakukan kecurangan dan ketidakjujuran.
Layangan yang didekorasi dengan unik dan indah akan menjadi kebanggaan bagi si pemilik, begitu halnya bagi yang melihatnya dapat memberikan rasa kagum atas sebuah kreativitas.

Keindahan itu memberikan hiburan dan juga ilmu pengetahuan Aerodinamis. Mari kita mainkan Layangan Politik yang penuh warna-warni dengan hati riang gembira. Tetaplah arif, bijaksana dan mawas diri dengan perkembangan yang ada. Jangan ikut larut dalam suasana yang dimanfaatkan oleh para pecundang demi ambisi kekuasaannya.

Jangan menjadi korban orasi dan narasi yang disebar lewat platform digital oleh orang-orang yang tak bertanggung jawab. Sang pecundang menonton sambil minum Kopi Hitam Kelas Premium serta makan Camilan, bagi yang minim literasi yang jadi korbannya, bersimbah keringat, air mata dan darah entah perjuangan untuk singgasananya siapa.

Belajar dari episode pertama, demo di Gedung Bawaslu pada malam Ramadhan 2019. Toh yang senang adalah para kontraktor dan vendor yang ditugaskan lewat “Penunjukan Langsung” agar melakukan renovasi dan rehabilitasi fasilitas umum dan Fasilitas Sosial yang rusak karena demo.

Sudah bukan zamannya lagi demo pakai merusak sebagai simbol luapan amarah. Ada sisa cerita yang tertinggal di sana, “jangan lupa ya sesuai kesepakatan awal” atau kalimat “Anggurnya apa sudah jadi Wine”.

Jangan merasa puas akibat emosi yang kita ledakkan dengan merusak pagar, tanaman hias, rambu-rambu, halte, lampu hias penerangan jalan dan lain sebagainya. Percayalah semakin parah rusaknya semakin tertawa mereka.

Demokrasi yang damai dan indah adalah milik kita bersama. Mari kita rawat dan jaga.

(KRO/RD/BUDI SUDARMAN)